Karsi Nerro Soethamrin: CARA SUKSES MENYELAMATKAN HUTAN DAN TELAGA BURET KAB. TULUNGAGUNG

Belajar dari keteguhan pemuda desa menyelamatkan hutan Madirda dan Telaga Buret dari kerusakan lingkungan akibat pembalakan liar.

Disadur dari harian KOMPAS, 3 November 2018. Penulis Ambrosius Harto. 
Si Jagoan Gondrong, Karsi Nerro Suthamrin          
Alam raya dan kekayaannya bukan anugerah Sang Pencipta atau warisan leluhur, melainkan titipan anak, cucu, cicit, dan generasi seterusnya. 

Jagalah. Manfaatkanlah, tetapi secara bijaksana dan lestari. Karsi Nerro Soethamrin ingin ikut menjaga alam jangan sampai rusak. Dia menjaga titipan alam Telaga Buret di Tulungagung agar generasi penerus bisa menikmatinya.

Sampai dengan 1990, Karsi Nerro Soethamrin adalah seorang lelaki remaja yang gemar bertualang di alam. Dia sangat mengingat saat itu Telaga Buret di Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, masih dinaungi pohon-pohon menjulang dengan berkanopi daun-daun yang tebal. 

Kawasan itu adalah hutan tropis seolah kawasan yang belum terjamah, aneka buah, sayur, bahan obat, bahan bangunan, dan telaga sebagai sumber air untuk kehidupan ada di kawasan itu. Selain itu, satwa liar, termasuk predator, antara lain macan dahan, macan rembah dan macan tutul, seolah raja rimba penguasa burung, kera, mamalia, binatang melata, bahkan serangga.  

Namun, selepas 1990, kawasan hutan sendang yang awalnya disebut Madirda itu mulai diserang perambahan. Ada yang mulai berani ;menantang' kutukan Jigang Jaya yang diyakini merupakan perwira Kerajaan Majapahit yang membuat perigi itu ada di masa lalu. 

Pohon mulai ditebangi. Batu dan tanah dikeruk. Air disedot. Ikan, bulus, dan satwa yang hidup di danau dan hutan itu diambil untuk dimanfaatkan atau dikonsumsi. Serangan menghebat selepas Reformasi ketika rakyat diberi kewenangan untuk memanfaatkan sumber daya alam.

Sekelompok pemuda, termasuk Karsi Nerro Soethamrin, tidak rela Madirda kian hancur. Dampaknya segera terasa ketika alam semakin rusak. Air telaga digunakan untuk pengairan sawah di empat desa sekitar di Campurdarat, yaitu Desa Sawo, Gamping, Gedangan, dan Ngentrong. 

Beberapa kali petani gagal panen akibat kekeringan pada musim kemarau atau kebanjiran pada musim hujan.

“Jika kerusakan alam itu tidak dihentikan, warga tidak akan mendapat manfaat lagi dari telaga,” kata Karsi ketika ditemui Kompas di Tulungagung,  September 2018.
Lelaki berambut panjang itu ingat, bersama kalangan pemuda dan warga yang menyadari adanya kerusakan sendang membuat ikrar penyelamatan pada 1997. 

Namun, dua tahun kemudian, serangan masif datang bersamaan seiring euporia Reformasi yang salah satunya rakyat berhak mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam. Kelompok warga dengan niat sederhana ingin melestarikan Telaga Buret berhadapan dengan sesama yang ingin mereguk manfaat ekonomi untuk memenuhi kebutuhan perut.

Konflik jelas tidak terhindarkan. Tetapi bukan berupa  bentrokan, apalagi insiden. Karsi dan kalangan pemuda yang rata-rata berambut gondrong itu turun ke “mandala tempur”. 

Namun dia melakukannya bukan dengan jurus pamungkas, melainkan daya pikat kesabaran, ketabahan, dan keuletan. Setiap ada pohon yang ditebang, mereka segera menanami dengan bibit baru meski jenis tanaman tidak sama, jumlahnya lebih banyak. Tanaman dirawat dan dijaga.

Selain itu, mereka juga menggali cerita-cerita masa lalu Madirda. Kisah mistis tentang kutukan Jigang Jaya bahwa warga sekitar telaga setiap tahun harus melakukan ulur-ulur atau selamatan tiap Jumat Legi dalam bulan Selo agar terhindar dari bencana. 

Legenda yang ditularkan kembali dari mulut ke mulut itu sepertinya lumayan ampuh.“Mungkin juga ketika itu tidak sedikit yang mungkin takut atau sungkan dengan kami, karena gondrong-gondrong dan berani mati demi kelestarian telaga, ha… ha… ,” ujarnya.

BERBUAH MANIS

Pelan tapi pasti, ikhtiar mereka yang menamakan diri Habitat Masyarakat Peduli Alam Raya (HAMPAR) berbuah manis. Serangan terhadap hutan sendang terus berkurang. 

Mereka mengajukan diri kepada Perum Perhutani sebagai penjaga dan pengelola Telaga Buret dan diberikan hak seluas 1,9 hektar. Kini kawasan yang dikelola meluas menjadi 22,8 hektar dan sedang diajukan perluasan menjadi 60 hektar.

Di sela rutinitas sebagai pegiat industri mikro, kecil dan menengah (IMKM) Karsi dan teman-teman tetap berikhtiar menjaga Telaga Buret. Mereka pun menata kawasan itu dengan pembagian zona-zona. 

Di kawasan hutan itu ada zona untuk berkemah, bermain, bahkan dibangun pondok sederhana untuk perpustakaan kecil dan warung makanan minuman.  Meski pun menjadi salah satu objek wisata lingkungan dan religi, pengunjung tidak dibebani pungutan retribusi, kecuali sumbangan untuk parkir kendaraan pribadi.

Mereka juga melestarikan tradisi ulur-ulur yang hampir selalu dihadiri oleh pejabat tinggi eksekutif dan legislatif Tulungagung. Selain itu, umat Hindu di Tulungagung rutin mengadakan melasti. Telaga Buret dengan petilasan Jigang Jaya turut menjadi lokasi jiarah mereka untuk berdoa memohon kemenangan dalam kontestasi politik.

“Ulur-ulur tahun ini tidak dihadiri pejabat, tetapi tahun depan pasti ramai karena tahun politik,  hehehe,” ujar Karsi menunjuk tahun depan adalah tahun pemilu 2019, di mana para calon legislatif atau para pendukung calon presiden dan wakilnya ramai-ramai mendekati masyarakat.  

KALPATARU

Perjuangan Karsi dan warga yang peduli akhirnya mendapat apresiasi. Pada 2003, Karsi menerima anugrah Pemuda Pelopor Jawa Timur. Penghargaan membuatnya merasa tercambuk karena merasa tidak layak dan belum berbuat apa-apa.

“Mendorong saya dan teman-teman untuk lebih giat lagi,” kata Karsi. Area pengelolaan yang dipercayakan Perhutani diperluas, menjadi 3 hektar, lalu 5 hektar.

Pada 2014, Karsi menerima anugrah Kalpataru dari Bupati Tulungagung sebagai penyelamat lingkungan hidup. Setahun kemudian Karsi mendapat Kalpataru dari Gubernur Jawa Timur. 

Tahun itu pula Karsi diajukan sebagai nomine Kalpataru tingkat nasional dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tetapi tidak menang. Namun, pada 2018, penghargaan itu baru jatuh pada Karsi dan diberikan di Bitung, Sulawesi Utara.

“Saya merasa tidak pantas menerima penghargaan karena saya adalah bagian dari masyarakat yang telah susah payah berjuang demi Telaga Buret. Wargalah yang seharusnya menerima anugrah, “ kata Karsi.

KARSI NERRO  SOETHAMRIN
Lahir : Tulungagung, 8 Juni 1973
Istri  : Siti Nuryuana
Anak : Nerri Java Ayungtyas
Pendidikan :    SD Negeri Sawo I
                      SMP Budi Luhur Ngantrong

Aktivitas: 
  • Ketua Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata Kabupaten Tulungagung
  • Ketua Forum Komunitas Hijau Kabupaten Tulungagung
  • Ketua Habitat Masyarakat Peduli Alam Sekitar (HAMPAR)
  • Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Kabupaten Tulungagung.  
  

Telaga Buret
Keindahan Telaga Buret, sebagai objek wisata sekaligus sumber air bagi pertanian sekitarnya.



Post a Comment

0 Comments